Sayembara Gagal - Truth Or Dare
Terimakasih
Permainan Bodoh
Hujan menandakan sore itu begitu
gelap. Belum masuk waktu maghrib tapi sudah terlihat gelap. 3 orang remaja
putri yang sedang bercanda didalam sebuah mobil mewah berwarna putih terus
menggelitik kedinginan karena cuaca yang tidak sedikitpun mempermudah malam
minggu mereka. Arindu yang hanya mengenakan hotpant jeans dan tangtop hitam
yang dipadupadankan dengan jaket jeans membuatnya merasa seperti sedang dikutub
utara. AC mobil yang sudah dimatikan juga tidak terlalu merubah keadaan. Hanya
dengan diam Lena memperlihatkan keinginannya untuk mencurahkan segala isi
hatinya tentang cuaca sore kala itu. Lena hanya memilih untuk menahan dingin
daripada cerewet yang tidak akan mengurangi suhu udara yang sedang
dirasakannya. Hujan memang sangat deras. Jalanan dari kaca mobil tidak begitu
terlihat. Hanya cahaya merah dan kuning yang terlihat dari lampu motor ataupun
mobil yang berlalu lalang dijalan yang penuh sesak dengan pertokoan. Sepertinya do’a para jomblo ngenes yang
hanya bisa nongkrong didepan tv sedang dikabulkan oleh Tuhan.
Ketiga gadis berparas menawan itu
akhirnya sampai ditempat tujuan. Disebuah mall yang cukup besar diwilayahnya.
Hobby mereka memang shopping dan menghabiskan uang orang tua tanpa alasan yang
jelas. Tapi kali ini sepertinya mereka sedang mengurungkan niatnya untuk
shopping atau belanja manik manik nggak penting yang berlebihan. Mereka ke mall
hanya ingin nonton. 4 hari setelah penayangan perdana film terbaru dari aktor
tampan Vino G. Bastian muncul, mereka mulai penasaran dengan cerita konyol yang
sering dikemukakan oleh para following following mereka di twitter. Pada
dasarnya, ketiga gadis mewah itu mempunyai alasan untuk nonton film ini karena
tidak terima dan marah dengan produser yang membuat filmnya!
"aktor setampan Vino kok dinamain Udin sih? Nggak jelas
banget!" terang Nilam yang tidak terima pangeran impiannya dinamai nama
kampungan difilm terbarunya itu. Nilam adalah gadis berusia 18 tahun yang tidak
lain tidak bukan adalah pemilik mobil mewah yang sama mewahnya dengan majikan
yang selalu diantarkannya. Nilam memang yang paling kaya diantara Arindu dan
Lena. Ayah Nilam yang menjabat sebagai salah satu direktur pusat sebuah bank
swasta di Indonesia membuat Nilam jarang bertemu Ayahnya karena jarak yang
sering menghalangi. Bagi Nilam jarang bertemu Ayah itu tidak masalah yang
penting uang selalu rutin dikirim dan tidak kurang seratus rupiah pun setiap
bulannya. Tidak jarang, Nilam malah selalu meminta lebih. Ayah dan Bunda Nilam
sudah bercerai, Bunda Nilam memutuskan untuk bercerai karena tidak setuju
dengan pekerjaan Ayahnya yang mungkin dapat mengkhawatirkan kegoyahan iman dari
diri Ayah Nilam. Padahal Ayah Nilam
baik. Mungkin Bunda Nilam yang tidak sanggup mengelola uang yang pastinya akan
selalu menumpuk disetiap bulannya nanti. Ini wanita langka!
Come back to
the movie!
Sepertinya ketiga anak manusia
yang gila harta ini tidak telat untuk mendapatkan tiket film yang sedang
diperbincangkan banyak kalangan itu. Banyak kalangan? Yes! Film ini memang
ditujukan untuk semua umur. Karena cerita yang dimuat adalah cerita tentang
seorang anak manusia yang mempunyai keahlian untuk menggagalkan banyak aksi
bunuh diri! Menakutkan? Tapi ini bukan film horor sepertinya. Karena ada cerita
cinta remaja yang hadir untuk menambahkan bumbu untuk memperapik film ini.
"ohh The Fabulous Udin toh" celetuk Arindu yang sedari tadi
hanya berdiri melihat satu per satu poster yang terpampang di Grand21
SoloSquare tempat Lena sedang mengantri untuk mendapatkan 3 tiket nonton untuk
kedua sahabatnya juga dirinya.
Kurang lebih 2 jam mereka berada di dalam studio
dan setelah keluar dari studio Lena hanya terus marah marah kepada Nilam yang
telah mengajaknya untuk menonton film konyol tapi juga membuat bedak dimuka
Lena luntur karena air matanya yang bercucuran karena ulah si Udin yang membuat
hati Lena begitu tersentuh. Arindu dan Nilam hanya diam mendengar komentar
Lena, karena sebenarnya mereka juga merasakan perasaan yang sama seperti Lena.
Hawa dingin. Perut lapar. Mungkin
itu perkawinan yang serasi, seperti Mickey Mouse dan Mini Mouse yang setia
saling menemani sejak tahun 1928.
"nggak usah makan disini! Jajan di ngarsopuro aja!" tangkis
Arindu ketika Lena mengajak mereka makan di PH. Untuk masalah perut sepertinya
Nilam, Lena, dan Arindu tidak pernah menghitung berapa harganya. Mau murah, mau
mahal kalau memang rasanya enak mereka tidak akan menolak walau makanan pinggir
jalan sekalipun.
"tapi diluar hujan Rin! Ngarsopuro pasti basah!" tegas Nilam
yang sepertinya Nilam tidak ingin kedinginan lagi untuk yang kedua kalinya.
Ngarsopuro atau night market di kota Solo memang sangat ramai oleh para anak
muda yang suka nongkrong dan jalan jalan mengisi waktu luang pada saat malam
minggu. Banyak yang dijual di Ngarsopuro dari pakaian, sepatu, aksesoris,
kerajinan asli Solo, sampai pedagang makanan pun berlomba lomba untuk
menjajakan makanannya disekitar tempat yang berada disepanjang Jl.Diponegoro
ini.
"ehh main game yang difilm
tadi yuk?" ajak Lena yang sedari tadi sudah mulai bosan melihat kedua sahabatnya
bermain gadget tanpa ada satu katapun yang membuyarkan keseriusan mereka
memandangi gadget. Tapi sebelum Nilam dan Arindu menanggapi ajakan Lena, Pizza
yang aromanya menarik selera makan mereka yang menggebu gebu sudah datang
dihadapan mereka. Tanpa dosa, tanpa memikirkan diet. Mereka habiskan 8 potong
pizza yang sangat mengenyangkan dan begitu nikmat. Keju mozarella yang
bececeran dimulut Lena bak ice cream vanilla yang belepotan dimulut bayi,
begitu membuat Nilam dan Arindu merasa jijik melihatnya. Memang dari perdebatan
mereka, Arindu menyerah karena perut yang sudah tidak dapat dikompromi untuk
menunggu kemacetan yang mungkin akan terjadi dan kemacetan itu nggak akan
pernah bisa luntur sekalipun air hujan yang berliter liter datang menghujam!
Emm, bosen ya
nyimak tiga cewek kaya yang nggak penting ini? Iya sama! Aku juga pffffff Tapi,
mau ada tokoh baru dateng kok. Tenang! *senyum manis ngedipin mata*
Benar kata Nilam. Ngarsopuro
basah. Tapi hujan sudah reda. Dan penuh padat terisi oleh para pemuda pemudi
kota Solo yang sengaja mengisi malam minggu mereka. Indah. Lampu warna warni
menghiasi lapak para pedagang. Ya tentu untuk menarik para pembeli. Oiya!
Ngarsopuro itu beda dengan pasar malem lho! Nggak ada komedi putar, kora kora
atau yang lainnya. Tapi kalau mau melihat para gadis cantik yang hobby menari
dan terlihat sangat luwes disini mungkin tempat yang tepat. Karena tidak jarang
banyak pertunjukan pertunjukan yang membuat para pendatang antusias untuk
mengerumuni pertunjukan tersebut. Diantara lapak lapak yang tidak begitu ramai,
terlihat ada salah satu lapak yang ramainya luar biasa. Seperti masa yang
sedang mengeroyok maling. Rudi. Dengan kulitnya yang hitam dan kaosnya yang
berwarna hitam pula membuat Rudi semakin tidak terlihat di kerumunan itu. Semua
orang meneriaki namanya tanpa henti. Ramai sekali. Rudi si penjual siomay itu
hanya bermodalkan sepeda ontel tua milik bapaknya dan 2 buah panci besar yang
dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat membuat panci yang dibawanya selalu
hangat. Iya ada kompornya. Sulit dijelaskan bagaimana cara memasangnya. Yang
pasti dua panci itu selalu penuh dengan bahan bahan yang sudah matang untuk
dijajakannya di Ngarsopuro. "enak!" ucap setiap konsumen yang baru
datang untuk menyicipi siomay buatan Rudi tersebut. Setiap komponennya matang
merata, ada rasanya. Sambal kacangnya begitu maknyus. Rudi tidak pernah pelit
memberi sambal kacang pada setiap konsumennya, karena memang dari sambal kacang
itu senjata ampuh untuk membuat konsumennya datang lagi dan datang lagi. Bukan
resep turun temurun keluarga. Tapi resep rahasia Rudi.
Sorry, aku
nggak bisa berbagi resep sambal kacangnya! Takut
resepnya dicolong sama tetangga!
"mas, siomaynya 2 porsi ya?
Yang satu nggak pake pare! Sambal kacangnya yang banyak!" minta pelanggan
yang sudah sering datang ke lapak milik Rudi ini. Oiya! Rudi bukan hanya
membawa perlengkapan untuk dagangannya, tapi juga beberapa tikar yang
difungsikan agar pelanggan bisa makan siomay sambil duduk santai di Ngarsopuro.
"ini bro! Minumnya beli disebelah yo! Hahaha" bercandaan Rudi
memang selalu begitu ketika ada pelanggan yang memilih untuk makan di tikar
usang milik Rudi ketimbang dibawa pulang. Ya karena Rudi memang tidak menjual
minuman. Teh hangat sekalipun! Dua pelanggan yang sering datang ke lapak Rudi
ini aneh! Pelanggan ini sering menghabiskan waktu dilapak Rudi. Entah apa yang
dibicarakan pelanggan setia tersebut yang pasti selalu membuat Rudi bingung
karena sepasang kekasih itu pasti meminjam botol kecap kecil milik Rudi untuk
diputar putar. Selidik demi selidik akhirnya Rudi mengerti apa bahasan yang
sering kedua orang itu lakukan.
"oh macam tebak tebakan!" tanggapan Rudi ketika Rudi
mengetahui salah satu dari pelanggannya itu bertanya kepada kekasihnya
"Truth Or Dare?".
Minggu pagi yang cerah. Car Free
Day adalah acara rutin setiap minggu pagi. Ramai sekali. Tapi kadang
membingungkan. CFD itu dipergunakan untuk apasih sebenernya? Go green? Iya!
Tempat dagang? Iya! Tempat hiburan? Iya! Tempat promosi? Juga iya! Kebun
binatang? Kayaknya juga iya! Gimana enggak? Dari hewan peliharaan kaya kucing,
anjing, sampai mamalia kadang ikut meramaikan CFD dikota Solo. Bagi sebagian
Ibu Ibu hamil yang datang untuk ikut senam pagi mendadak malah pendarahan gara
gara melihat banyak banget ular didalam box! Itu baru didalam box dan membuat
Ibu Ibu hamil pendarahan. Belum yang bergelantungan dileher si empunya! Fix!
Berhasil membuat nenek nenek jantungan. Hampir pingsan. Untung masih hampir.
Nilam, Arindu dan Lena tiga cewek
jomblo kaya raya ini bersepeda santai menyusuri Jl. Slamet Riyadi yang dipikir
pikir lumayan panjang juga. Ngomong ngomong kasihan ya mereka. Iyasih kaya,
cantik tapi kok jomblo? Hmmm, mungkin ini pembuktian bahwa cinta itu tidak
memandang materi ataupun rupa tapi hati. Rudi tidak hanya berjualan setiap
malam minggu saja di Ngarsopuro tapi juga di pagi buta begini Rudi sudah siap
menjajakan siomay yang menggiurkan itu di trotoar sepanjang Jl.Slamet Riyadi.
Harganya murah. 5 ribu rupiah isi 5 macam komponen siomay sudah sangat mengenyangkan.
Nilam, Arindu, dan Lena sudah tidak asing lagi dengan Rudi begitupun
sebaliknya. Ya karena sudah sering beli! Rudi mengakui bahwa 3 cewek sexy ini
sangat tidak sopan. Bagaimana tidak? Mereka menganggap Rudi seperti penjual
yang tidak ada harganya. Tidak pernah mengucapkan terimakasih walaupun mereka
tau siomay Rudi sangat enak. Nggak munafik! Rudi sering memaafkan kelakuan
mereka yang tidak sopan kepada Rudi walaupun mereka tidak pernah mengucap kata
maaf. Gimana nggak meleleh kalau seorang cowok item berlesung pipit ini hampir
rutin setiap minggunya diapelin 3 cewek sexy yang hanya mengenakan hotpand itu?
Rudi hanya menelan ludah ketika tiba-tiba Rudi mengingat akan suatu hal. Rudi
bukan siapa siapa. Hanya dan tidak lebih dari penjual siomay dipinggir jalan.
Nilam, Lena dan Arindu duduk ditikar Rudi yang lusuh dan kusam. Mereka
sebenarnya jijik tapi apa boleh buat tidak ada tempat yang lebih layak diduduki
kecuali tikar milik Rudi. "mas, pinjem botol kecap yang kecil itu
dong?" ini membuat Rudi bingung untuk kesekian kalinya. Kenapa botol
kecapnya selalu dipinjam pelanggan?
"monggo mbak" setelah membersihkan botol kecap tersebut dari
belepotan kecap yang menempel dengan kain basah Rudi melakukan gerakan lebih
cepat untuk memberikan botol kecap itu kepada Nilam. Terlihat sekali geroginya.
Malu maluin.
Sambil meracik siomay pesanan
ketiga cewek rumpik itu Rudi memperhatikan apa yang mereka lakukan kepada botol
kecapnya tersebut. Diputar. Ini sama seperti pelanggan Rudi yang setiap malam
minggu mampir ke lapaknya di Ngarsopuro. Botol kecap tersebut mengarah tepat
dihapadan Lena, dan tanpa embel embel apapun Lena sangat bersemangat.
"kamu kenak rin! Hahahaha" ketawa Lena nggak senonoh banget sampai
membuat Rudi terperanjak dibelakangnya ketika akan memberikan pesanan kepada
pelanggannya itu. Piring di tangan Rudi hampir jatuh. Untung masih hampir,
belum sampai. Lagi lagi ini sudah dugaan Rudi. Tidak ada kata maaf. Sombong
sekali.
"Truth Or Dare?" tanya Lena kepada Arindu.
"Dare!!" jawab Arindu tegas tanpa basa basi sedikitpun.
Rudi bingung lagi. Entah bodoh atau kampungan. Rudi memang nggak paham
apa itu "Truth Or Dare". Melihat wajah kebingungan si penjual siomay,
seorang gadis cantik nan manis berjilbab yang menunggu pesanannya yang sedang
dibungkus Rudi berusaha menengahi "Truth or Dare itu permainan gila! Si
korban diperkenankan memilih. Truth atau Dare. Kalau memilih truth berarti
lebih memilih jujur daripada memilih tantangan. Begitupun sebaliknya"
jelas secara lengkap bak sedang menjawab test di olimpiade geografi panjang
lebar dan membingungkan.
"oh begitu mbak" sambil menganggukkan kepalanya dan memberikan
2 porsi siomay didalam kantong plastik tersebut kepada si empunya. Tiba tiba
Lena menghampiri Rudi yang tengah mencuci piring kotor diember yang Rudi bawa.
Airnya selalu diganti. Rudi memang dekil dan hitam tapi bagi Rudi kebersihan
itu penting dan harus dijaga. Rudi selalu mencuci piring pelanggannya seperti
mencuci piring untuk piring makannya sendiri.
"mas, minta 10 potong pare ya" tukas Lena yang sepertinya
sedang bersemangat untuk menjaili sahabatnya, Arindu. Arindu sama sekali tidak
suka sayur. Apalagi pare! Dia selalu memberikan pare pare dipiringnya kepada
Nilam ketika membeli siomay. Rasanya pahit. Bentuknya aneh. Pikir Arindu selalu
tentang kebenciannya kepada sang pare. Oiya! Mereka sudah membuat perjanjian
tentang permainan ini tempo hari. Korban harus memilih dengan matang antara
truth atau dare karena tidak diperbolehkan mengganti seenaknya. Apalagi ketika
sudah tau apa tantangannya. Itu sangat dilarang! Mereka sudah berjanji dan
pasti tidak akan pernah mengingkari!
"aku bisa nggak doyan makan 7 hari 7 malem Len" rengek Arindu
ketika melihat tantangannya sudah ada didepan mata. 10 potong pare dipiring.
Tanpa sambal kacang yang maknyus! Tanpa kecap untuk pemanis! Tanpa saos untuk
aroma pedas! Kejam!
"10 menit waktu kamu untuk ngehabisin ini! Harus habis! Kalau
enggak habis kamu boleh bayar makanan kita ini semua. Tapi inget harus habis
paling dikit musti makan 5! Awas aja ya!" tegas Lena yang begitu balas
dendam karena ulah Arindu semalam ketika main di PH setelah menyantap habis
pizza pizza nya. Arindu menantang Lena untuk merayu kakek kakek yang sedang
jalan sama istrinya. Sampai Lena digampar sama nenek nenek itu dan membuat
kedua sahabatnya malah tertawa bahagia. Untung pasangan tua itu tidak sampai
cerai. Hanya adu mulut, gara gara ulah Lena dan otak jail Arindu. Ada satu
peraturan yang paling penting lagi dipermainan ini untuk mereka. Bagi korban
yang tidak melaksanakan truth atau dare nya, si korban akan dikucilkan di
sekolah! Siapa yang berani sama geng anak orang kaya ini. Kalau cuma nyuruh
anak anak lain ngejauhin satu diantara mereka itu gampang! Sangat gampang. 5
potong pare, di dua detik terakhir yang dimiliki Arindu akhirnya berhasil
menghantarkanya kepada kemenangan karena telah berhasil menghabiskan 5 potong
pare yang rasanya nggak karuan.
Arindu sanggup kalau hanya untuk membayar siomay 25 ribu dan es teh yang
dibelinya disebelah lapak Rudi. Murah. Tapi enggak buat Rudi. Rudi merasa
sayang melihat 5 potong pare masih utuh dipiring itu. Itu masakannya yang tidak
dihabiskan. Seperti tidak dihargai. Walaupun dibayar lunas tapi Rudi tetap
tidak tega. Rudi memungutnya dari piring Arindu. Tidak untuk dijual lagi. Tapi
Rudi simpan pare itu kedalam tas plastik. Dan akan dimakannya nanti dirumah.
Mulia.
Di hari hari biasa Rudi menjajakan
siomaynya di sekitar stadion manahan. Itu sepertinya tempat yang strategis
untuk mengais rejeki bagi Rudi. Banyak anak anak yang nongkrong disana. Alasan
kenapa Rudi begitu sangat bekerja keras? Keluarga Rudi masih lengkap dirumah.
Tapi Bapaknya sakit. Beliau hanya bisa berbaring ditempat tidur. Sedangkan
Ibunya hanya bisa membantu Rudi membuat komponen komponen siomaynya. Rudi tidak
memperbolehkan Ibunya untuk bekerja keras. Takut Ibu nanti hanya bisa tertidur
diranjang seperti Bapak kalau kecapekan. Rudi anak terakhir dari 3 bersaudara.
Kedua kakaknya sudah berkeluarga. Dan kedua duanya merantau ke Ibu Kota. Bukan
untuk jadi pejabat atau apa. Tapi memang Tuhan hanya mengizinkan mereka untuk
menjadi seorang pemulung dan yang satunya lagi menjadi seorang buruh pabrik.
Gajinya tak seberapa. Maka dari itu Rudi tak sedikitpun mempunyai keinginan
untuk menambahi beban kakak kakaknya. Kejamnya dunia.
Hari senin. Harinya anak sekolah.
Bukan hari yang disuka tapi hari yang dibenci. "MONsterDAY" kalau
kata anak sekolah jaman sekarang. Nilam, Arindu, dan Lena memang bukan anak
bodoh disekolah dan mereka juga patuh. Tapi patuh untuk melanggar setiap tata
tertib yang ada. Kejailan mereka semakin menjadi jadi ketika mereka menemukan
permainan baru itu. Korbannya memang hanya salah satu diantara mereka tapi
imbasnya? Guru killer pun dapet apesnya. Ketika itu botol handbody milik Nilam
mengarah ke Nilam sendiri. Bak kucing jinak yang nurut sama majikannya.
"Truth Or Dare?" tanya Nilam kepada Lena yang memang
sepertinya Lena sudah menjadi incaran Nilam sejak pertama permainan dimulai.
Lena jelas memilih Dare! Dan tantangannya;
"kamu lempar permen karet ini pas ke rambut Bu Dar sampe kena dan
lengket dikepalanya! Kalau gagal tantangan bakal lebih parah! Waktunya habis
istirahat ini sampai akhir jam pelajaran dia!" tukas Nilam jelas tanpa
titik dan koma hanya tanda seru. Kejam! Bayangin aja guru killer kalian disekolah,
apa berani kalian lempar permen karet ke rambutnya sampai lengket? Misal
ketauan kalau yang ngelempar kalian gimana? Mampus!
Permainan dihentikan ketika Lena
sudah tau apa tantangannya. Lena menata hati dan pikirannya setenang mungkin.
Berharap Bu Dar tidak mengetahui rencananya. Setelah Bu Dar menjelaskan panjang
lebar di Bab barunya ini akhirnya waktu yang ditunggu Lena sudah tiba kini Bu
Dar sedang menulis soal soal di papan. Ini waktu yang tepat. Tempat duduk Lena
sudah pindah di depan sendiri. Ini strategis. Lena membuka permen karet bekas
Nilam tadi dari tissue nya. Jijik! Lena melemparnya! Dengan harapan guru killer
itu tidak membalik badannya sebelum permen karet itu menempel. Setelah
melemparnya Lena langsung menunduk. Lena takut! Takut dihukum! Takut pelajaran
bahasa inggrisnya di rapor berwarna merah atau bahkan hanya berisi sebuah
coretan. Miris! Rambut Bu Dar tidak begitu panjang, hitam legam, dan keriting.
Dengan keadaan rambut Bu Dar yang seperti itu sepertinya bisa mempermudah aksi
Lena. Permen karet yang dilempar Lena tidak memberikan respons. Tidak terdengar
suara apa-apa dari permen karet bekas Nilam tadi. Hanya suara tawa. Lena
memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya diiringi suara kawan sekelasnya
yang sudah menahan tawa yang sepertinya tawa terbahak bahak. Perlahan kepalanya
mulai naik dan..... "Yes! Nempel!" gerakan mulutnya menandakan Lena
berbicara seperti itu dengan melirik Nilam yang tempat duduknya berada jauh
dibelakang pojok.
Jam pelajaran Bu Dar habis sekitar
10 menit lagi. Untuk cari aman Lena minta ijin ke kamar mandi. Sampainya
dikamar mandi Lena hanya berada di depan cermin dan memastikan keringat dingin
sudah hilang dari tubuhnya. Bel istirahat kedua berbunyi. Lena keluar dari
kamar mandi. Dan betapa hebatnya dunia ini. Lena bertemu Bu Dar didepan pintu
kamar mandi dengan muka garang. Lena mencoba tersenyum tapi guru itu tidak
menggubrisnya.
"kayaknya nggak ketauan. Dia nggak marah sama aku! Hahaha"
tawa Lena sendiri sambil berjalan menuju kelas menghampiri 2 sahabatnya yang
bersifat seperti iblis itu.
Rudi melakoni hari harinya dengan
penuh semangat. Semangatnya untuk membawa Bapak kerumah sakit dan bisa sembuh.
Semangatnya untuk membuat Ibunya selalu makan enak. Semangat untuk membuat
orang orang tau bahwa hidup memang harus berjuang walau ada rintangan sekecil
apapun harus tetap diterjang. Camkan!
Satu minggu sudah berlalu setelah terjadi hujan deras yang menimpa kota Solo
Sabtu lalu.
Welcome in night market kota Solo. Hari ini tidak hujan. Bulan cerah. Sangat
terlihat putih diantara barang disekitarnya. Jalanan kering. Ini tandanya tidak
ada kesulitan untuk para pedagang mendirikan tenda tendanya untuk mencari
sesuap nasi. Rudi masih tetap bertahan di tempatnya. Dilapak yang selalu ramai
oleh para remaja yang menggemari sambal kacangnya. Begitupun Nilam, Lena, dan
Arindu mereka sudah berencana untuk menghabiskan malam minggu disini. Ditikar
lusuh milik Rudi. Botol kecap milik Rudi sudah pindah tangan ditangan ketiga
cewek berambut indah itu.
"kasihan botol kecap ku. Pasti mual!" keluh Rudi melihat botol
kecapnya yang sepertinya tersiksa dengan kelakuan mereka. Botol kecap yang
sedang dipeluk Rudi dari jauh itu ujung atasnya berhenti tepat didepan Arindu.
"ah rin pasti kamu mau balas dendam lagi!" tukas Lena ketika
melihat wajah Nilam yang tidak khawatir dan seperti sedang meng-iya-kan
pernyataan Lena.
"tau ajasih! Truth or Dare Lena? Hahahaha" jawab Arindu sambil
menyambar es teh ditangannya. Belum sempat Lena menjawab, tiba tiba ada orang
yang berbicara tepat dari belakang Arindu.
"maaf mbak?Mau pesen berapa porsi?" Layaknya takut rugi
seperti pedagang lainnya, akhirnya Rudi menyetop permainan mereka sejenak dan
menawarkan dagangannya.
"3 porsi mas. Biasa." jawab Nilam yang sedari tadi tidak sadar
bahwa mereka belum pesan siomay kepada siempunya tempat.
"aku truth ajadeh! Capek nantang maut!" jawab Lena yang
sepertinya anak gadis itu siap apapun pertanyaannya.
"ini yang aku tunggu dari kemaren! Aku mau kamu jujur!" nada
Arindu sedikit membentak. Takut ada apa apa tentang pertanyaan Arindu yang akan
diberikan kepada Lena, Nilam menengahi,
"apa ni Rin? Jangan yang bikin berantem ya?" gaya sok bijak
Nilam sudah mulai terpancar. Tanpa menggubris omongan Nilam sepertinya Arindu
sudah matang ingin menanyakan ini kepada Lena,
"Len aku tau kamu temenku. Tapi bukannya seorang temen itu nggak
akan pernah jadi maling ya?" suara Arindu bergetar. Lena hanya diam dan
mencoba menebak nebak apa yang akan ditanyakan sahabatnya itu. Maling?
"aku nggak pernah ambil cowok dia" batin Lena mengartikan
sendiri kata kata maling tadi. "aku tau kamu suka dunia fotografi! Aku tau
kamu udah punya kamera DSLR. Tapi apa yang kurang Len? Kenapa kamu nyolong
kamera aku? Kenapa? Aku tau kamu nggak suka dengan hobby ku yang sekarang ini
karena kamu pikir aku ikut ikut kamu. Tapi please jangan ambil kamera
aku!" tangis itu pecah Arindu tidak sanggup menahannya. Lena dan Arindu
memang punya hobby yang sama. Tapi Lena lebih dulu menggemari dunia fotografi.
Satu tahun lebih dulu malah dibanding Arindu. Arindu membeli kamera Canon 7D
sekitar 2 bulan yang lalu. Arindu sengaja membeli kamera itu untuk mengikuti
lomba fotografi yang berhadiah uang puluhan juta rupiah. Tapi setelah Arindu
memenangkan kontes fotografer disalah satu mall di Solo itu kameranya hilang
seketika. Arindu bingung. Arindu menangis. Arindu kecewa nggak bisa menjaga
kamera itu dengan maksimal. Lambat laun karena banyak motivasi dari
kanan-kirinya perlahan akhirnya Arindu bisa mengikhlaskan kameranya. Tapi
ketika Arindu dan Nilam mampir kerumah Lena dan memporakporandakan seisi kamar
Lena dan bermain dikamar Lena, Arindu menemukan sesuatu yang aneh dari tutup
lensa yang ada dikamera Lena. Bukan aneh tapi itu nyata. Ada tulisan huruf
"A" dengan spidol silver dibalik tutup itu. Tulisannya kecil. Mungkin
Lena tidak pernah memperhatikan itu. Tapi Arindu tau apa arti dari simbol itu.
Arindu yakin itu miliknya. Arindu tetap berpositif thingking terhadap Lena
sampai tiba saatnya Arindu berani bertanya.
"kamu nuduh aku?" jawab Lena dengan setengah gugup.
"aku cuma mau kamu jujur. Aku punya banyak bukti. Tutup lensa
dikameramu itu tutup lensaku!" tegas Arindu sampai Rudi merinding sendiri
melihat kelakuan ketiga pelanggan setianya itu.
"shit! Iya emang aku yang ngambil kameramu. Tutup lensa ku hilang
jadi aku pinjam. Tapi aku ngga pernah ada niat untuk memiliki kameramu itu. Aku
tidak pernah memakainya. Kamera itu ada dirumah aku simpan. Aku hanya tidak
suka kamu ikut ikut aku!" jelas Lena, belum ada air mata dari kelopak
matanya. Nilam menengahi, Nilam tidak menyangka sahabatnya bisa melakukan ini,
"Len, Ngga seharusnya juga kamu ngambil kamera Arindu. Kamu bisa
ngomong baik baik!". "iya iya besuk aku balikin. Maafin aku rin. Aku
cuma iri aja kamu bisa menang lomba kemaren. Padahal kan kamu masih pemula.
Maaf ya! Janji besuk aku balikin sama tutup lensanya juga." hangat peluk
Lena menghujam ditubuh Arindu. Nilam mengusap kedua punggung sahabatnya itu
berharap tidak ada lagi kejadian seperti ini. Sahabat bukan melukai bahkan
mencuri, tapi sahabat yang mendidik bahkan menyokong.
"iya, aku ngerti." Arindu tidak marah kepada Lena karena
Arindu sudah tau Lena tidak akan menjual atau bahkan menyalahgunakan barang
yang bukan miliknya. Lena masih seperti anak kecil. Lena tidak suka kesukaannya
menjadi kesukaan orang lain. Sahabatnya sekalipun. "lanjut maen nggak
nih?" Nilam menimpali diantara pelukan hangat yang sedang terjadi.
"lanjutlah!" sahut Arindu yang mulai berusaha melepaskan pelukan
Lena. Botol kecap Rudi yang malang itu sudah berputar. Lagi. Kearah Arindu.
"aduh rin jangan aku lagi dong! Aku capek!" melas Lena yang
tidak ingin menjadi korban Arindu yang entah sudah keberapa kalinya.
"tenang! Aku juga udah bosen kok ngerjain kamu Len. Nilam, kamu
pilih jujur atau tantangan?" bak menembak burung dan tepat pada sasaran
pertanyaan Arindu kepada Nilam. "Dare! Males jujur-jujuran bisa ada drama
korea lagi nanti hahaha" bercandaan Nilam membuat kedua sahabatnya
menertawakan komedian garing itu.
"kamu punya duit kan Lam?" tanya Arindu tanpa memalingkan matanya
dari mata Nilam. "iyalah! Tantangannya soal duit? Gampang! Hahahaha!"
kali ini ketawa Nilam tidak ada yang mengikuti.
"kamu telfon ayahmu sekarang! Minta ke ayah mu ngasih modal ke dia.
Biar kita jajannya juga enak entar!" jelas Arindu yang membuat Nilam sport
jantung. Modalin? Berapa duit itu?!!!
"ya ya ya aku setuju
banget!" tukas Lena yang ikut berpendapat tentang tantangan ini.
"shit! Gak mati 200 juta begooo!!" telunjuk Nilam menusuk didepan mata Lena seperti Lena yang memberi
tatangan ini. Padahal bukan. Kasihan memang hidup Lena. Serba salah. Dari
cekcok yang sudah membabi buta akhirnya Nilam menyerah. Nilam tidak akan mau
dikucilkan semua teman-temannya disekolah. Kalian juga nggak mau kan jadi bahan
gunjingan menjadi penghianat dan hidup sebatangkara disekolah? jika selama
Nilam masih bisa menyelamatkan harkat dan martabatnya Nilam pasti akan lakukan
dengan uang 1 milyar sekalipun pasti Nilam akan mengusahakannya.
"yah, ayah masih inget siomay yang pernah kita makan waktu kita jalan di
ngarsopuro?" tanya Nilam kepada orang yang sedang bersuara didalam
ponselnya. Ayah Nilam.
"apanih maksud kamu de? Kangen ayah ya? Hahaha ingetlah. Kangen
juga ayah sama sambal kacangnya. Enak!" jawab ayah Nilam dengan nada
bercanda.
"gini yah, ayah mau nggak modalin dia untuk dia buat kayak rumah
makan gitu. Buat aku nongkrong sama temen-temen. Abis aku kalau nongkrong
ditikar ini terus bisa gatelan yah!" jelas Nilam agak sedikit akting.
"wah wah. Yakin kamu? Itu butuh beaya lho de! Emang kamu kenal sama
yang jual?" jawab ayah Nilam yang sedang berada dijauh sana.
"kenal yah. Dia masih muda. Pekerja keras. Baik. Sopan. Ayah nggak
akan nyesel bisa kerjasama sama dia. Pasti dia juga antusias meladeni ajakan
ayah" rayu Nilam. Lagi.
"kamu urus ajadeh. Nanti dirinci. Ayah kirim uangnya. Tapi jangan
sampai kamu ditipu ya. Bahaya uang banyak Nilam!" ayah Nilam baik karena
ayah Nilam dulu juga seorang yang tidak mampu. Semua dari nol. Hingga seperti
sekarang karena kerja keras. Tuhan pasti memberi jalan. Telfon sudah dimatikan.
Sekarang giliran Nilam menyusun kata kata untuk membujuk Rudi agar antusias
dengan ajakan Nilam dan Ayahnya.
Tanpa basa basi setelah menaruh
handphonenya ditas Nilam langsung memanggil Rudi, "mas Rudi, sini
deh!".
Seketika Rudi terperanjak bak ada bidadari yang menyebut namanya.
"iya mbak? Mau pesan lagi?" tidak salah sama sekali pertanyaan
Rudi itu. Tapi apakah tidak ada firasat seperti akan kejatuhan duit bejibun?
Bintang yang sepertinya tau apa yang akan terjadi hanya diam tanpa berpindah
dititik semula dia berada. Nilam telah menjelaskan seperti apa yang Ayahnya
perintahkan ditelefon tadi kepada Rudi panjang lebar. Mulai dari beaya tanah,
beaya pembangunan, dan pencarian tenaga kerja sudah diatur Nilam dan para
suruhan Ayahnya. Bak seorang Raja, Rudi tinggal menunggu jadi. Tapi bukan Rudi
namanya jika hanya berdiam diri. Rudi membantu para tukang yang mengerjakan
Rumah Makan yang akan diurusnya nanti. Nilam dan kawan kawan sudah menutup
rapat rapat tentang ada kejadian apa dibalik niat baik Nilam ini karena Nilam
dan teman-temannya tidak mau Rudi akan sakit hati entah sekarang atau nanti
bahwa Rudi hanya menjadi korban dari sebuah permainan tolol yang tidak ada
landasan hukumnya tersebut.
2 bulan lebih telah berlalu
setelah kejadian di Ngarsopuro tempo hari. Kini Rudi hanya tinggal memasak,
meracik bumbu kacang rahasianya didapur. Ada chef lain yang membantunya pula
tapi dengan tidak mengurangi rasa hormatnya Rudi menolak mentah mentah jika
chef tersebut berniatan untuk membantunya membuat sambal kacang. Serahasiakah
sambal pelengkap siomay itu? Rudi sebenarnya sedikit marah ketika bulatan
bulatan siomaynya ditambahi sedikit bumbu dan racikan ala patner kerjanya
tersebut. Tapi apa boleh buat, setelah siomay yang diaransemen oleh Chef
kenalan Lena itu, Nilam sangat suka begitupun Ayahnya. Ayah Nilam menyempatkan
pulang untuk melihat apakah uang yang dikirimnya tempo hari beratus ratus juta
itu digunakan dengan baik atau tidak oleh anak semata wayangnya, Nilam. Setelah
sampai Solo memang Nilam telah membuat Ayahnya bangga. Anak bandel dan boros
itu sudah menjadi malaikat untuk seorang pedagang siomay lapak seperti Rudi.
Bagaimana tidak? Keadaan ekonomi Rudi sekarang sudah jauh membaik. Harga yang
ditawarkan pastinya jauh lebih mahal daripada yang dulu Rudi jajakan. Semua
yang datang di Rumah Makan yang dinamai "kedai ciomay" itu kebanyakan
dari kalangan menengah keatas. Sungguh berkelas.
Dari tahun ke tahun Rumah makan ini terus ramai. Nilam dan teman temannya yang
sudah mulai kuliah, tak jarang mereka selalu mengajak teman temannya untuk
hangout di Rumah Makan yang tercipta karena permainan Truth Or Dare ini! Ohiya.
Sesekali mereka masih sering bermain permainan menantang maut itu. Tapi setelah
kejadian Rumah makan ini mereka kebanyakan lebih memilih untuk jujur daripada
menerima tantangan.
"ogah ah takut ayah ku bangkrut" celetuk Arindu ketika Nilam
memaksanya untuk memilih Dare.
Tentang keluarga Rudi. Bapak Rudi
sudah sehat karena sudah dirawat sampai sembuh dirumah sakit ternama di Solo.
Untuk menjaga kesehatannya Bapak Rudi ingin berkegiatan dan memilih untuk ikut
berpartisipasi mengurus Kedai Ciomay. Menunggu di meja kasir. Ini bukan
pekerjaan ringan. Karena Ibu dari segala Ibu sebuah rumah makan adalah Kasir!
Sedangkan Ibu Rudi kadang kala ikut membantu dikasir. Tapi tidak setiap hari
hanya ketika Ibu Rudi sedang merasa lelah berdiam diri dirumah.
Pekerjaan ini membuat hubungan silaturahmi keluarga Rudi dan keluarga Nilam
begitu baik. Sudah seperti keluarga sendiri. Bapak dan Ibu Rudi sudah seperti
orangtua pengganti bagi Nilam. Ayahnya yang memang jarang pulang kini tidak begitu khawatir
dengan keberadaan Nilam yang hanya sendirian di Solo karena sudah ada Rudi dan
keluarganya yang senantiasa selalu menemani Nilam. Nilam telah berubah. Semenjak
Nilam tau bagaimana susahnya mencari rupiah kini Nilam lebih bisa menghargai
uang. Hanya membeli yang dibutuhkan. Dan menabung untuk keperluan masa
depannya. Nilam yang berusia semakin matang membuatnya merasa mempunyai
kewajiban untuk berfikir kedepan dan lebih dewasa. Setelah lulus kuliah Nilam
berencana membuka beberapa cabang Rumah Makannya di luar kota. Karena terbilang
cukup laris, Nilam memberanikan diri untuk melakukannya. Dan ternyata benar,
antusias warga menyambut Kedai Ciomay sangat menguntungkan Nilam.
Lena dan Arindu. Mereka telah menikah. Setelah lulus kuliah Lena dilamar
oleh seorang dokter muda yang tampan. Pikir Lena karena sudah mempunyai suami
dokter Lena tidak perlu mencari pekerjaan. Tidak munafik! 70% dari 100% wanita
Indonesia memang lebih memilih leha leha dirumah dan menikmati jeripayah suami.
Ini memalukan. Memang istri adalah tanggungjawab suami, tapi tidak disalahkan
juga jika istri juga mau bekerja dan tidak hanya bersantai ria. Tapi tidak
jarang Lena mengikuti lomba lomba fotografi yang hadiahnya bisa sampai puluhan
juta. Tapi yang namanya lomba itu bukan pekerjaan kan? Hanya untuk mengisi
waktu luang. Jika untung ya menang, jika kalah ya tidah terlalu menjadi
masalah. Tapi sepertinya Lena memang dilahirkan untuk selalu beruntung.
Kemahirannya dalam memoteret selalu membawanya menjadi pemengang. Walau tidak
selalu menjadi pemenang pertama. Tapi ini cukup adil untuk suami Lena, karena
Lena masih bisa menutup kebutuhannya pribadi dengan uangnya sendiri.
Arindu. Tidak jauh beda dengan Nilam. Arindu sepertinya berbakat dalam
bidang kewiraswastaan. Arindu mempunyai butik kecil-kecilan. Pakaian yang
dijual adalah hasil rancangannya sendiri. Suaminya yang hanya seorang pegawai
negeri sipil membuat uang bulanan Arindu hanya sedikit. Itu yang memotivasinya
untuk mencari uang lebih. Ini lebih baik daripada hanya menggantungkan hidup
kepada suami. Kebanyakan pelanggannya hanya memang dari teman kuliah atau teman
SMAnya. Ini yang membuat Arindu terkadang menjadi pusing. Bagaimana tidak? Setiap
pembeli yang mengaku teman seangkatannya sewaktu kuliah atau SMA memborong
dagangannya mereka selalu meminta diskon! Ini membuat keuntungan Arindu sedikit
meleset dari keuntungan yang sudah dirinci sebelumnya. Tapi ini juga bukan
masalah besar untuk Arindu. Tidak apa dijual sedikit lebih miring asalkan
mereka mau menjadi pelanggan setia.
Ini hidup. Tidak selalu lurus.
Terkadang harus terjatuh dulu sebelum memahami sebabnya. Bahagia dulu sebelum
tau musibah apa yang terjadi setelahnya. Ini mengerikan. Teka-teki kehidupan
yang hanya Tuhan yang tau, tidak lebih dan tidak kurang.
Arindu dan Lena sepertinya sudah hidup
bahagia. Ini sudah ending untuk Arindu dan Lena. Mari kita lanjutkan ending
untuk Nilam. Apa juga akan berakhir bahagia?
7 tahun lamanya Kedai Ciomay Pusat berdiri. Sampai saat ini
masih berdiri kokoh dengan bangunan asli hanya saja sudah sedikit diperindah.
Yap! Keindahan Kedai Ciomay ini sangat begitu terasa hari ini, hari dimana
banyak bunga mawar putih terangkai rapi menawan disertai bau harumnya yang
semerbak. Bukan acara upacara kematian sepertinya. Kedai Ciomay memang bisa
disewakan untuk acara pesta . Pesta Ulangtahun contohnya. Pastinya dengan kocek
tidak sedikit. Rumah makan mahal coy!! Karpet merah tergelar dengan bijaksana
didepan pintu masuk Kedai Ciomay. Dekorasinya tidak sembarangan. Ini mewah.
Dekor full warna putih. Mawar putih, balon balon putih, semua meja hidangan
berlapiskan kain putih megah, para pelayan pun juga sudah bersiap dengan
seragam putih putihnya. Acara ulangtahun siapa ini? Emmmm. Sepertinya bukan
acara pesta ulangtahun. Tidak ada tulisan Happy Birthday. Tapi..... Happy
Wedding!!
Sebuah kue tart besar berhiaskan 2
angsa putih bak sedang dicumbu asmara sedang menjadi pusat perhatian. Karena
kue tart itu akan dipotong! Siapa yang tega memotong kue tart semewah itu?
Mempelai wanita dan juga suaminya sudah memotong kue tart itu secara simbolis
dengan sempurna. Ini romantis. Akad nikah sudah dilaksanakan tadi pagi. Baru
pertama kali Kedai Ciomay disewa untuk resepsi pernikahan. Kaya nggak ada
gedung atau tempat lain aja. Tapi memang sih, si pendekor sangat pintar. Kedai
Ciomay tidak lagi seperti rumah makan. Sudah seperti Istana Mewah. Para tamu undangan yang hadir terlihat
sangat rapi. Tidak terlihat satupun tamu undangan yang memakai baju
sembarangan. Betapa terhormatnya siempunya acara ini.
Lena dan Arindu berjalan menuju
mimbar yang menjadi pusat perhatian seluruh tamu yang datang. Yap! Mimbar
dimana kedua mempelai sedang duduk dengan rona wajah yang memerah karena cinta
yang sedang menghiasi mereka.
Nilam? Nilam dimana kok cuma berdua?
"Selamat sayang, kamu memang pantas mendapatkan dia! Laki laki ini
memang bisa membimbingmu menjadi jauh lebih baik!" peluk Lena kepada
mempelai wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang sedang kalian
tebak tebak. Nilam. Nilam hampir menitihkan airmata ketika menyambut kedua
sahabatnya yang sedang bertamu diacara pernikahannya.
"selamat ya Rud. Jagain Nilam semampumu! Bahkan lebih dari yang
kamu mampu" Sahut Lena yang kini sudah berdiri dihadapan mempelai pria.
Rudi. Rudi sudah mantap untuk melabuhkan hatinya di seorang gadis yang sudah
menjadi malaikat dihidupnya. Wajah Rudi yang hitam manis membuatnya percaya
diri bahkan yakin jika Nilam akan menerima lamarannya. Tidak pernah ada kata
cinta sebelum ini, hanya sebuah pertanyaan sakral yang membuat Nilam menitihkan
airmatanya karena terharu mendengarnya.
"aku tau aku hanya pedagang siomay keliling
yang sebelumnya gapernah kamu kenal. Tapi aku tau Tuhan gapernah sia sia
menciptakan aku sebagai tukang siomay. Seandainya Tuhan menciptakan aku sebagai
pengusaha kaya mungkin aku tidak sedang berbicara denganmu saat ini, bahkan
belum tentu aku bisa mengenalmu dan kamu menolongku hingga seperti sekarang
ini. Bukan kebetulan, karena memang
sudah direncanakan. Menurutmu apakah boleh aku menikahi malaikat ku?
Menjaga, mengisi, berbagi, hingga berusaha, dan saling mencintai. Itu bukan
tugas mudah sebelum ada cinta diantara kita, tapi aku yakin semua akan mudah
jika kamu mau memulainya dan memperbolehkan aku mengenakan cincin ini dijari
manis kamu, Nilam. Bolehkah?" Rudi yang terlihat tampan dan bersih malam
itu sudah bertekad bulat untuk menyatakan perasaannya. Mereka tidak pacaran,
tidak pernah ada kata cinta. Rudi mengeluarkan cincin itu dari tempatnya dan
telah siap mengenakan cincin itu dijari manis Nilam, tapi Rudi belum
meluncurkan aksinya sebelum siempunya jari mengiznkannya. "boleh Rudi,
silahkan!" tangan kanan Nilam mengulur kearah tangan Rudi, sedangkan
tangan kirinya mendarat dipipi yang sedang berwarna merah untuk menghapus
airmata yang berlinang. Bak tidak ingin diketahui Rudi, Nilam bergegeas
melakukannya dan memberi senyuman termanis dihadapan calon suaminya. Setelah
malam itu, rencana demi rencana sudah tersusun. Satu bulan berlalu setelah
permulaan lamaran yang tidak disengaja itu terjadi Rudi dan Nilam kini telah
berdiri dimimbar yang membuat mereka bak Raja dan Ratu yang sedang dimanjakan oleh rakyatnya.
Cinta bukan tentang arti, tapi
tentang dimana pemilik cinta itu dapat merasakan tanpa kalimat, melihat tanpa
diraba, bahkan terdengar diantara kebisuan.
Ini cerita
khayal. Maafkan aku kalau khayalan ini membuat kalian yang membaca sedikit
tersinggung, marah, jijik, atau sebagainya. Hanya hiburan! Terimakasih atas waktunya.
bagus juga thu critanya ,:) (Y)
BalasHapus