Jumat, 19 Februari 2016

Sayembara Gagal - Truth Or Dare

Terimakasih Permainan Bodoh

Hujan menandakan sore itu begitu gelap. Belum masuk waktu maghrib tapi sudah terlihat gelap. 3 orang remaja putri yang sedang bercanda didalam sebuah mobil mewah berwarna putih terus menggelitik kedinginan karena cuaca yang tidak sedikitpun mempermudah malam minggu mereka. Arindu yang hanya mengenakan hotpant jeans dan tangtop hitam yang dipadupadankan dengan jaket jeans membuatnya merasa seperti sedang dikutub utara. AC mobil yang sudah dimatikan juga tidak terlalu merubah keadaan. Hanya dengan diam Lena memperlihatkan keinginannya untuk mencurahkan segala isi hatinya tentang cuaca sore kala itu. Lena hanya memilih untuk menahan dingin daripada cerewet yang tidak akan mengurangi suhu udara yang sedang dirasakannya. Hujan memang sangat deras. Jalanan dari kaca mobil tidak begitu terlihat. Hanya cahaya merah dan kuning yang terlihat dari lampu motor ataupun mobil yang berlalu lalang dijalan yang penuh sesak dengan pertokoan. Sepertinya do’a para jomblo ngenes yang hanya bisa nongkrong didepan tv sedang dikabulkan oleh Tuhan.

Ketiga gadis berparas menawan itu akhirnya sampai ditempat tujuan. Disebuah mall yang cukup besar diwilayahnya. Hobby mereka memang shopping dan menghabiskan uang orang tua tanpa alasan yang jelas. Tapi kali ini sepertinya mereka sedang mengurungkan niatnya untuk shopping atau belanja manik manik nggak penting yang berlebihan. Mereka ke mall hanya ingin nonton. 4 hari setelah penayangan perdana film terbaru dari aktor tampan Vino G. Bastian muncul, mereka mulai penasaran dengan cerita konyol yang sering dikemukakan oleh para following following mereka di twitter. Pada dasarnya, ketiga gadis mewah itu mempunyai alasan untuk nonton film ini karena tidak terima dan marah dengan produser yang membuat filmnya!
"aktor setampan Vino kok dinamain Udin sih? Nggak jelas banget!" terang Nilam yang tidak terima pangeran impiannya dinamai nama kampungan difilm terbarunya itu. Nilam adalah gadis berusia 18 tahun yang tidak lain tidak bukan adalah pemilik mobil mewah yang sama mewahnya dengan majikan yang selalu diantarkannya. Nilam memang yang paling kaya diantara Arindu dan Lena. Ayah Nilam yang menjabat sebagai salah satu direktur pusat sebuah bank swasta di Indonesia membuat Nilam jarang bertemu Ayahnya karena jarak yang sering menghalangi. Bagi Nilam jarang bertemu Ayah itu tidak masalah yang penting uang selalu rutin dikirim dan tidak kurang seratus rupiah pun setiap bulannya. Tidak jarang, Nilam malah selalu meminta lebih. Ayah dan Bunda Nilam sudah bercerai, Bunda Nilam memutuskan untuk bercerai karena tidak setuju dengan pekerjaan Ayahnya yang mungkin dapat mengkhawatirkan kegoyahan iman dari diri Ayah Nilam. Padahal Ayah Nilam baik. Mungkin Bunda Nilam yang tidak sanggup mengelola uang yang pastinya akan selalu menumpuk disetiap bulannya nanti. Ini wanita langka!

Come back to the movie!

Sepertinya ketiga anak manusia yang gila harta ini tidak telat untuk mendapatkan tiket film yang sedang diperbincangkan banyak kalangan itu. Banyak kalangan? Yes! Film ini memang ditujukan untuk semua umur. Karena cerita yang dimuat adalah cerita tentang seorang anak manusia yang mempunyai keahlian untuk menggagalkan banyak aksi bunuh diri! Menakutkan? Tapi ini bukan film horor sepertinya. Karena ada cerita cinta remaja yang hadir untuk menambahkan bumbu untuk memperapik film ini.
"ohh The Fabulous Udin toh" celetuk Arindu yang sedari tadi hanya berdiri melihat satu per satu poster yang terpampang di Grand21 SoloSquare tempat Lena sedang mengantri untuk mendapatkan 3 tiket nonton untuk kedua sahabatnya juga dirinya.

Kurang lebih 2 jam mereka berada di dalam studio dan setelah keluar dari studio Lena hanya terus marah marah kepada Nilam yang telah mengajaknya untuk menonton film konyol tapi juga membuat bedak dimuka Lena luntur karena air matanya yang bercucuran karena ulah si Udin yang membuat hati Lena begitu tersentuh. Arindu dan Nilam hanya diam mendengar komentar Lena, karena sebenarnya mereka juga merasakan perasaan yang sama seperti Lena.

Hawa dingin. Perut lapar. Mungkin itu perkawinan yang serasi, seperti Mickey Mouse dan Mini Mouse yang setia saling menemani sejak tahun 1928.
"nggak usah makan disini! Jajan di ngarsopuro aja!" tangkis Arindu ketika Lena mengajak mereka makan di PH. Untuk masalah perut sepertinya Nilam, Lena, dan Arindu tidak pernah menghitung berapa harganya. Mau murah, mau mahal kalau memang rasanya enak mereka tidak akan menolak walau makanan pinggir jalan sekalipun.
"tapi diluar hujan Rin! Ngarsopuro pasti basah!" tegas Nilam yang sepertinya Nilam tidak ingin kedinginan lagi untuk yang kedua kalinya. Ngarsopuro atau night market di kota Solo memang sangat ramai oleh para anak muda yang suka nongkrong dan jalan jalan mengisi waktu luang pada saat malam minggu. Banyak yang dijual di Ngarsopuro dari pakaian, sepatu, aksesoris, kerajinan asli Solo, sampai pedagang makanan pun berlomba lomba untuk menjajakan makanannya disekitar tempat yang berada disepanjang Jl.Diponegoro ini.

"ehh main game yang difilm tadi yuk?" ajak Lena yang sedari tadi sudah mulai bosan melihat kedua sahabatnya bermain gadget tanpa ada satu katapun yang membuyarkan keseriusan mereka memandangi gadget. Tapi sebelum Nilam dan Arindu menanggapi ajakan Lena, Pizza yang aromanya menarik selera makan mereka yang menggebu gebu sudah datang dihadapan mereka. Tanpa dosa, tanpa memikirkan diet. Mereka habiskan 8 potong pizza yang sangat mengenyangkan dan begitu nikmat. Keju mozarella yang bececeran dimulut Lena bak ice cream vanilla yang belepotan dimulut bayi, begitu membuat Nilam dan Arindu merasa jijik melihatnya. Memang dari perdebatan mereka, Arindu menyerah karena perut yang sudah tidak dapat dikompromi untuk menunggu kemacetan yang mungkin akan terjadi dan kemacetan itu nggak akan pernah bisa luntur sekalipun air hujan yang berliter liter datang menghujam!

Emm, bosen ya nyimak tiga cewek kaya yang nggak penting ini? Iya sama! Aku juga pffffff Tapi, mau ada tokoh baru dateng kok. Tenang! *senyum manis ngedipin mata*

Benar kata Nilam. Ngarsopuro basah. Tapi hujan sudah reda. Dan penuh padat terisi oleh para pemuda pemudi kota Solo yang sengaja mengisi malam minggu mereka. Indah. Lampu warna warni menghiasi lapak para pedagang. Ya tentu untuk menarik para pembeli. Oiya! Ngarsopuro itu beda dengan pasar malem lho! Nggak ada komedi putar, kora kora atau yang lainnya. Tapi kalau mau melihat para gadis cantik yang hobby menari dan terlihat sangat luwes disini mungkin tempat yang tepat. Karena tidak jarang banyak pertunjukan pertunjukan yang membuat para pendatang antusias untuk mengerumuni pertunjukan tersebut. Diantara lapak lapak yang tidak begitu ramai, terlihat ada salah satu lapak yang ramainya luar biasa. Seperti masa yang sedang mengeroyok maling. Rudi. Dengan kulitnya yang hitam dan kaosnya yang berwarna hitam pula membuat Rudi semakin tidak terlihat di kerumunan itu. Semua orang meneriaki namanya tanpa henti. Ramai sekali. Rudi si penjual siomay itu hanya bermodalkan sepeda ontel tua milik bapaknya dan 2 buah panci besar yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat membuat panci yang dibawanya selalu hangat. Iya ada kompornya. Sulit dijelaskan bagaimana cara memasangnya. Yang pasti dua panci itu selalu penuh dengan bahan bahan yang sudah matang untuk dijajakannya di Ngarsopuro. "enak!" ucap setiap konsumen yang baru datang untuk menyicipi siomay buatan Rudi tersebut. Setiap komponennya matang merata, ada rasanya. Sambal kacangnya begitu maknyus. Rudi tidak pernah pelit memberi sambal kacang pada setiap konsumennya, karena memang dari sambal kacang itu senjata ampuh untuk membuat konsumennya datang lagi dan datang lagi. Bukan resep turun temurun keluarga. Tapi resep rahasia Rudi.

Sorry, aku nggak bisa berbagi resep sambal kacangnya! Takut resepnya dicolong sama tetangga!

"mas, siomaynya 2 porsi ya? Yang satu nggak pake pare! Sambal kacangnya yang banyak!" minta pelanggan yang sudah sering datang ke lapak milik Rudi ini. Oiya! Rudi bukan hanya membawa perlengkapan untuk dagangannya, tapi juga beberapa tikar yang difungsikan agar pelanggan bisa makan siomay sambil duduk santai di Ngarsopuro.
"ini bro! Minumnya beli disebelah yo! Hahaha" bercandaan Rudi memang selalu begitu ketika ada pelanggan yang memilih untuk makan di tikar usang milik Rudi ketimbang dibawa pulang. Ya karena Rudi memang tidak menjual minuman. Teh hangat sekalipun! Dua pelanggan yang sering datang ke lapak Rudi ini aneh! Pelanggan ini sering menghabiskan waktu dilapak Rudi. Entah apa yang dibicarakan pelanggan setia tersebut yang pasti selalu membuat Rudi bingung karena sepasang kekasih itu pasti meminjam botol kecap kecil milik Rudi untuk diputar putar. Selidik demi selidik akhirnya Rudi mengerti apa bahasan yang sering kedua orang itu lakukan.
"oh macam tebak tebakan!" tanggapan Rudi ketika Rudi mengetahui salah satu dari pelanggannya itu bertanya kepada kekasihnya "Truth Or Dare?".

Minggu pagi yang cerah. Car Free Day adalah acara rutin setiap minggu pagi. Ramai sekali. Tapi kadang membingungkan. CFD itu dipergunakan untuk apasih sebenernya? Go green? Iya! Tempat dagang? Iya! Tempat hiburan? Iya! Tempat promosi? Juga iya! Kebun binatang? Kayaknya juga iya! Gimana enggak? Dari hewan peliharaan kaya kucing, anjing, sampai mamalia kadang ikut meramaikan CFD dikota Solo. Bagi sebagian Ibu Ibu hamil yang datang untuk ikut senam pagi mendadak malah pendarahan gara gara melihat banyak banget ular didalam box! Itu baru didalam box dan membuat Ibu Ibu hamil pendarahan. Belum yang bergelantungan dileher si empunya! Fix! Berhasil membuat nenek nenek jantungan. Hampir pingsan. Untung masih hampir.

Nilam, Arindu dan Lena tiga cewek jomblo kaya raya ini bersepeda santai menyusuri Jl. Slamet Riyadi yang dipikir pikir lumayan panjang juga. Ngomong ngomong kasihan ya mereka. Iyasih kaya, cantik tapi kok jomblo? Hmmm, mungkin ini pembuktian bahwa cinta itu tidak memandang materi ataupun rupa tapi hati. Rudi tidak hanya berjualan setiap malam minggu saja di Ngarsopuro tapi juga di pagi buta begini Rudi sudah siap menjajakan siomay yang menggiurkan itu di trotoar sepanjang Jl.Slamet Riyadi. Harganya murah. 5 ribu rupiah isi 5 macam komponen siomay sudah sangat mengenyangkan. Nilam, Arindu, dan Lena sudah tidak asing lagi dengan Rudi begitupun sebaliknya. Ya karena sudah sering beli! Rudi mengakui bahwa 3 cewek sexy ini sangat tidak sopan. Bagaimana tidak? Mereka menganggap Rudi seperti penjual yang tidak ada harganya. Tidak pernah mengucapkan terimakasih walaupun mereka tau siomay Rudi sangat enak. Nggak munafik! Rudi sering memaafkan kelakuan mereka yang tidak sopan kepada Rudi walaupun mereka tidak pernah mengucap kata maaf. Gimana nggak meleleh kalau seorang cowok item berlesung pipit ini hampir rutin setiap minggunya diapelin 3 cewek sexy yang hanya mengenakan hotpand itu? Rudi hanya menelan ludah ketika tiba-tiba Rudi mengingat akan suatu hal. Rudi bukan siapa siapa. Hanya dan tidak lebih dari penjual siomay dipinggir jalan.
Nilam, Lena dan Arindu duduk ditikar Rudi yang lusuh dan kusam. Mereka sebenarnya jijik tapi apa boleh buat tidak ada tempat yang lebih layak diduduki kecuali tikar milik Rudi. "mas, pinjem botol kecap yang kecil itu dong?" ini membuat Rudi bingung untuk kesekian kalinya. Kenapa botol kecapnya selalu dipinjam pelanggan?
"monggo mbak" setelah membersihkan botol kecap tersebut dari belepotan kecap yang menempel dengan kain basah Rudi melakukan gerakan lebih cepat untuk memberikan botol kecap itu kepada Nilam. Terlihat sekali geroginya. Malu maluin.

Sambil meracik siomay pesanan ketiga cewek rumpik itu Rudi memperhatikan apa yang mereka lakukan kepada botol kecapnya tersebut. Diputar. Ini sama seperti pelanggan Rudi yang setiap malam minggu mampir ke lapaknya di Ngarsopuro. Botol kecap tersebut mengarah tepat dihapadan Lena, dan tanpa embel embel apapun Lena sangat bersemangat. "kamu kenak rin! Hahahaha" ketawa Lena nggak senonoh banget sampai membuat Rudi terperanjak dibelakangnya ketika akan memberikan pesanan kepada pelanggannya itu. Piring di tangan Rudi hampir jatuh. Untung masih hampir, belum sampai. Lagi lagi ini sudah dugaan Rudi. Tidak ada kata maaf. Sombong sekali.
"Truth Or Dare?" tanya Lena kepada Arindu.
"Dare!!" jawab Arindu tegas tanpa basa basi sedikitpun.
Rudi bingung lagi. Entah bodoh atau kampungan. Rudi memang nggak paham apa itu "Truth Or Dare". Melihat wajah kebingungan si penjual siomay, seorang gadis cantik nan manis berjilbab yang menunggu pesanannya yang sedang dibungkus Rudi berusaha menengahi "Truth or Dare itu permainan gila! Si korban diperkenankan memilih. Truth atau Dare. Kalau memilih truth berarti lebih memilih jujur daripada memilih tantangan. Begitupun sebaliknya" jelas secara lengkap bak sedang menjawab test di olimpiade geografi panjang lebar dan membingungkan.
"oh begitu mbak" sambil menganggukkan kepalanya dan memberikan 2 porsi siomay didalam kantong plastik tersebut kepada si empunya. Tiba tiba Lena menghampiri Rudi yang tengah mencuci piring kotor diember yang Rudi bawa. Airnya selalu diganti. Rudi memang dekil dan hitam tapi bagi Rudi kebersihan itu penting dan harus dijaga. Rudi selalu mencuci piring pelanggannya seperti mencuci piring untuk piring makannya sendiri.
"mas, minta 10 potong pare ya" tukas Lena yang sepertinya sedang bersemangat untuk menjaili sahabatnya, Arindu. Arindu sama sekali tidak suka sayur. Apalagi pare! Dia selalu memberikan pare pare dipiringnya kepada Nilam ketika membeli siomay. Rasanya pahit. Bentuknya aneh. Pikir Arindu selalu tentang kebenciannya kepada sang pare. Oiya! Mereka sudah membuat perjanjian tentang permainan ini tempo hari. Korban harus memilih dengan matang antara truth atau dare karena tidak diperbolehkan mengganti seenaknya. Apalagi ketika sudah tau apa tantangannya. Itu sangat dilarang! Mereka sudah berjanji dan pasti tidak akan pernah mengingkari!
"aku bisa nggak doyan makan 7 hari 7 malem Len" rengek Arindu ketika melihat tantangannya sudah ada didepan mata. 10 potong pare dipiring. Tanpa sambal kacang yang maknyus! Tanpa kecap untuk pemanis! Tanpa saos untuk aroma pedas! Kejam!
"10 menit waktu kamu untuk ngehabisin ini! Harus habis! Kalau enggak habis kamu boleh bayar makanan kita ini semua. Tapi inget harus habis paling dikit musti makan 5! Awas aja ya!" tegas Lena yang begitu balas dendam karena ulah Arindu semalam ketika main di PH setelah menyantap habis pizza pizza nya. Arindu menantang Lena untuk merayu kakek kakek yang sedang jalan sama istrinya. Sampai Lena digampar sama nenek nenek itu dan membuat kedua sahabatnya malah tertawa bahagia. Untung pasangan tua itu tidak sampai cerai. Hanya adu mulut, gara gara ulah Lena dan otak jail Arindu. Ada satu peraturan yang paling penting lagi dipermainan ini untuk mereka. Bagi korban yang tidak melaksanakan truth atau dare nya, si korban akan dikucilkan di sekolah! Siapa yang berani sama geng anak orang kaya ini. Kalau cuma nyuruh anak anak lain ngejauhin satu diantara mereka itu gampang! Sangat gampang. 5 potong pare, di dua detik terakhir yang dimiliki Arindu akhirnya berhasil menghantarkanya kepada kemenangan karena telah berhasil menghabiskan 5 potong pare yang rasanya nggak karuan. Arindu sanggup kalau hanya untuk membayar siomay 25 ribu dan es teh yang dibelinya disebelah lapak Rudi. Murah. Tapi enggak buat Rudi. Rudi merasa sayang melihat 5 potong pare masih utuh dipiring itu. Itu masakannya yang tidak dihabiskan. Seperti tidak dihargai. Walaupun dibayar lunas tapi Rudi tetap tidak tega. Rudi memungutnya dari piring Arindu. Tidak untuk dijual lagi. Tapi Rudi simpan pare itu kedalam tas plastik. Dan akan dimakannya nanti dirumah. Mulia.

Di hari hari biasa Rudi menjajakan siomaynya di sekitar stadion manahan. Itu sepertinya tempat yang strategis untuk mengais rejeki bagi Rudi. Banyak anak anak yang nongkrong disana. Alasan kenapa Rudi begitu sangat bekerja keras? Keluarga Rudi masih lengkap dirumah. Tapi Bapaknya sakit. Beliau hanya bisa berbaring ditempat tidur. Sedangkan Ibunya hanya bisa membantu Rudi membuat komponen komponen siomaynya. Rudi tidak memperbolehkan Ibunya untuk bekerja keras. Takut Ibu nanti hanya bisa tertidur diranjang seperti Bapak kalau kecapekan. Rudi anak terakhir dari 3 bersaudara. Kedua kakaknya sudah berkeluarga. Dan kedua duanya merantau ke Ibu Kota. Bukan untuk jadi pejabat atau apa. Tapi memang Tuhan hanya mengizinkan mereka untuk menjadi seorang pemulung dan yang satunya lagi menjadi seorang buruh pabrik. Gajinya tak seberapa. Maka dari itu Rudi tak sedikitpun mempunyai keinginan untuk menambahi beban kakak kakaknya. Kejamnya dunia.

Hari senin. Harinya anak sekolah. Bukan hari yang disuka tapi hari yang dibenci. "MONsterDAY" kalau kata anak sekolah jaman sekarang. Nilam, Arindu, dan Lena memang bukan anak bodoh disekolah dan mereka juga patuh. Tapi patuh untuk melanggar setiap tata tertib yang ada. Kejailan mereka semakin menjadi jadi ketika mereka menemukan permainan baru itu. Korbannya memang hanya salah satu diantara mereka tapi imbasnya? Guru killer pun dapet apesnya. Ketika itu botol handbody milik Nilam mengarah ke Nilam sendiri. Bak kucing jinak yang nurut sama majikannya.
"Truth Or Dare?" tanya Nilam kepada Lena yang memang sepertinya Lena sudah menjadi incaran Nilam sejak pertama permainan dimulai. Lena jelas memilih Dare! Dan tantangannya;
"kamu lempar permen karet ini pas ke rambut Bu Dar sampe kena dan lengket dikepalanya! Kalau gagal tantangan bakal lebih parah! Waktunya habis istirahat ini sampai akhir jam pelajaran dia!" tukas Nilam jelas tanpa titik dan koma hanya tanda seru. Kejam! Bayangin aja guru killer kalian disekolah, apa berani kalian lempar permen karet ke rambutnya sampai lengket? Misal ketauan kalau yang ngelempar kalian gimana? Mampus!

Permainan dihentikan ketika Lena sudah tau apa tantangannya. Lena menata hati dan pikirannya setenang mungkin. Berharap Bu Dar tidak mengetahui rencananya. Setelah Bu Dar menjelaskan panjang lebar di Bab barunya ini akhirnya waktu yang ditunggu Lena sudah tiba kini Bu Dar sedang menulis soal soal di papan. Ini waktu yang tepat. Tempat duduk Lena sudah pindah di depan sendiri. Ini strategis. Lena membuka permen karet bekas Nilam tadi dari tissue nya. Jijik! Lena melemparnya! Dengan harapan guru killer itu tidak membalik badannya sebelum permen karet itu menempel. Setelah melemparnya Lena langsung menunduk. Lena takut! Takut dihukum! Takut pelajaran bahasa inggrisnya di rapor berwarna merah atau bahkan hanya berisi sebuah coretan. Miris! Rambut Bu Dar tidak begitu panjang, hitam legam, dan keriting. Dengan keadaan rambut Bu Dar yang seperti itu sepertinya bisa mempermudah aksi Lena. Permen karet yang dilempar Lena tidak memberikan respons. Tidak terdengar suara apa-apa dari permen karet bekas Nilam tadi. Hanya suara tawa. Lena memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya diiringi suara kawan sekelasnya yang sudah menahan tawa yang sepertinya tawa terbahak bahak. Perlahan kepalanya mulai naik dan..... "Yes! Nempel!" gerakan mulutnya menandakan Lena berbicara seperti itu dengan melirik Nilam yang tempat duduknya berada jauh dibelakang pojok.

Jam pelajaran Bu Dar habis sekitar 10 menit lagi. Untuk cari aman Lena minta ijin ke kamar mandi. Sampainya dikamar mandi Lena hanya berada di depan cermin dan memastikan keringat dingin sudah hilang dari tubuhnya. Bel istirahat kedua berbunyi. Lena keluar dari kamar mandi. Dan betapa hebatnya dunia ini. Lena bertemu Bu Dar didepan pintu kamar mandi dengan muka garang. Lena mencoba tersenyum tapi guru itu tidak menggubrisnya.
"kayaknya nggak ketauan. Dia nggak marah sama aku! Hahaha" tawa Lena sendiri sambil berjalan menuju kelas menghampiri 2 sahabatnya yang bersifat seperti iblis itu.

Rudi melakoni hari harinya dengan penuh semangat. Semangatnya untuk membawa Bapak kerumah sakit dan bisa sembuh. Semangatnya untuk membuat Ibunya selalu makan enak. Semangat untuk membuat orang orang tau bahwa hidup memang harus berjuang walau ada rintangan sekecil apapun harus tetap diterjang. Camkan!
Satu minggu sudah berlalu setelah terjadi hujan deras yang menimpa kota Solo Sabtu lalu.
Welcome in night market kota Solo. Hari ini tidak hujan. Bulan cerah. Sangat terlihat putih diantara barang disekitarnya. Jalanan kering. Ini tandanya tidak ada kesulitan untuk para pedagang mendirikan tenda tendanya untuk mencari sesuap nasi. Rudi masih tetap bertahan di tempatnya. Dilapak yang selalu ramai oleh para remaja yang menggemari sambal kacangnya. Begitupun Nilam, Lena, dan Arindu mereka sudah berencana untuk menghabiskan malam minggu disini. Ditikar lusuh milik Rudi. Botol kecap milik Rudi sudah pindah tangan ditangan ketiga cewek berambut indah itu.
"kasihan botol kecap ku. Pasti mual!" keluh Rudi melihat botol kecapnya yang sepertinya tersiksa dengan kelakuan mereka. Botol kecap yang sedang dipeluk Rudi dari jauh itu ujung atasnya berhenti tepat didepan Arindu.
"ah rin pasti kamu mau balas dendam lagi!" tukas Lena ketika melihat wajah Nilam yang tidak khawatir dan seperti sedang meng-iya-kan pernyataan Lena.
"tau ajasih! Truth or Dare Lena? Hahahaha" jawab Arindu sambil menyambar es teh ditangannya. Belum sempat Lena menjawab, tiba tiba ada orang yang berbicara tepat dari belakang Arindu.
"maaf mbak?Mau pesen berapa porsi?" Layaknya takut rugi seperti pedagang lainnya, akhirnya Rudi menyetop permainan mereka sejenak dan menawarkan dagangannya.
"3 porsi mas. Biasa." jawab Nilam yang sedari tadi tidak sadar bahwa mereka belum pesan siomay kepada siempunya tempat.
"aku truth ajadeh! Capek nantang maut!" jawab Lena yang sepertinya anak gadis itu siap apapun pertanyaannya.
"ini yang aku tunggu dari kemaren! Aku mau kamu jujur!" nada Arindu sedikit membentak. Takut ada apa apa tentang pertanyaan Arindu yang akan diberikan kepada Lena, Nilam menengahi,
"apa ni Rin? Jangan yang bikin berantem ya?" gaya sok bijak Nilam sudah mulai terpancar. Tanpa menggubris omongan Nilam sepertinya Arindu sudah matang ingin menanyakan ini kepada Lena,
"Len aku tau kamu temenku. Tapi bukannya seorang temen itu nggak akan pernah jadi maling ya?" suara Arindu bergetar. Lena hanya diam dan mencoba menebak nebak apa yang akan ditanyakan sahabatnya itu. Maling?
"aku nggak pernah ambil cowok dia" batin Lena mengartikan sendiri kata kata maling tadi. "aku tau kamu suka dunia fotografi! Aku tau kamu udah punya kamera DSLR. Tapi apa yang kurang Len? Kenapa kamu nyolong kamera aku? Kenapa? Aku tau kamu nggak suka dengan hobby ku yang sekarang ini karena kamu pikir aku ikut ikut kamu. Tapi please jangan ambil kamera aku!" tangis itu pecah Arindu tidak sanggup menahannya. Lena dan Arindu memang punya hobby yang sama. Tapi Lena lebih dulu menggemari dunia fotografi. Satu tahun lebih dulu malah dibanding Arindu. Arindu membeli kamera Canon 7D sekitar 2 bulan yang lalu. Arindu sengaja membeli kamera itu untuk mengikuti lomba fotografi yang berhadiah uang puluhan juta rupiah. Tapi setelah Arindu memenangkan kontes fotografer disalah satu mall di Solo itu kameranya hilang seketika. Arindu bingung. Arindu menangis. Arindu kecewa nggak bisa menjaga kamera itu dengan maksimal. Lambat laun karena banyak motivasi dari kanan-kirinya perlahan akhirnya Arindu bisa mengikhlaskan kameranya. Tapi ketika Arindu dan Nilam mampir kerumah Lena dan memporakporandakan seisi kamar Lena dan bermain dikamar Lena, Arindu menemukan sesuatu yang aneh dari tutup lensa yang ada dikamera Lena. Bukan aneh tapi itu nyata. Ada tulisan huruf "A" dengan spidol silver dibalik tutup itu. Tulisannya kecil. Mungkin Lena tidak pernah memperhatikan itu. Tapi Arindu tau apa arti dari simbol itu. Arindu yakin itu miliknya. Arindu tetap berpositif thingking terhadap Lena sampai tiba saatnya Arindu berani bertanya.
"kamu nuduh aku?" jawab Lena dengan setengah gugup.
"aku cuma mau kamu jujur. Aku punya banyak bukti. Tutup lensa dikameramu itu tutup lensaku!" tegas Arindu sampai Rudi merinding sendiri melihat kelakuan ketiga pelanggan setianya itu.
"shit! Iya emang aku yang ngambil kameramu. Tutup lensa ku hilang jadi aku pinjam. Tapi aku ngga pernah ada niat untuk memiliki kameramu itu. Aku tidak pernah memakainya. Kamera itu ada dirumah aku simpan. Aku hanya tidak suka kamu ikut ikut aku!" jelas Lena, belum ada air mata dari kelopak matanya. Nilam menengahi, Nilam tidak menyangka sahabatnya bisa melakukan ini,
"Len, Ngga seharusnya juga kamu ngambil kamera Arindu. Kamu bisa ngomong baik baik!". "iya iya besuk aku balikin. Maafin aku rin. Aku cuma iri aja kamu bisa menang lomba kemaren. Padahal kan kamu masih pemula. Maaf ya! Janji besuk aku balikin sama tutup lensanya juga." hangat peluk Lena menghujam ditubuh Arindu. Nilam mengusap kedua punggung sahabatnya itu berharap tidak ada lagi kejadian seperti ini. Sahabat bukan melukai bahkan mencuri, tapi sahabat yang mendidik bahkan menyokong.
"iya, aku ngerti." Arindu tidak marah kepada Lena karena Arindu sudah tau Lena tidak akan menjual atau bahkan menyalahgunakan barang yang bukan miliknya. Lena masih seperti anak kecil. Lena tidak suka kesukaannya menjadi kesukaan orang lain. Sahabatnya sekalipun. "lanjut maen nggak nih?" Nilam menimpali diantara pelukan hangat yang sedang terjadi. "lanjutlah!" sahut Arindu yang mulai berusaha melepaskan pelukan Lena. Botol kecap Rudi yang malang itu sudah berputar. Lagi. Kearah Arindu.
"aduh rin jangan aku lagi dong! Aku capek!" melas Lena yang tidak ingin menjadi korban Arindu yang entah sudah keberapa kalinya.
"tenang! Aku juga udah bosen kok ngerjain kamu Len. Nilam, kamu pilih jujur atau tantangan?" bak menembak burung dan tepat pada sasaran pertanyaan Arindu kepada Nilam. "Dare! Males jujur-jujuran bisa ada drama korea lagi nanti hahaha" bercandaan Nilam membuat kedua sahabatnya menertawakan komedian garing itu.
"kamu punya duit kan Lam?" tanya Arindu tanpa memalingkan matanya dari mata Nilam. "iyalah! Tantangannya soal duit? Gampang! Hahahaha!" kali ini ketawa Nilam tidak ada yang mengikuti.
"kamu telfon ayahmu sekarang! Minta ke ayah mu ngasih modal ke dia. Biar kita jajannya juga enak entar!" jelas Arindu yang membuat Nilam sport jantung. Modalin? Berapa duit itu?!!!
 "ya ya ya aku setuju banget!" tukas Lena yang ikut berpendapat tentang tantangan ini.
"shit! Gak mati 200 juta begooo!!" telunjuk Nilam menusuk didepan mata Lena seperti Lena yang memberi tatangan ini. Padahal bukan. Kasihan memang hidup Lena. Serba salah. Dari cekcok yang sudah membabi buta akhirnya Nilam menyerah. Nilam tidak akan mau dikucilkan semua teman-temannya disekolah. Kalian juga nggak mau kan jadi bahan gunjingan menjadi penghianat dan hidup sebatangkara disekolah? jika selama Nilam masih bisa menyelamatkan harkat dan martabatnya Nilam pasti akan lakukan dengan uang 1 milyar sekalipun pasti Nilam akan mengusahakannya.
"yah, ayah masih inget siomay yang pernah kita makan waktu kita jalan di ngarsopuro?" tanya Nilam kepada orang yang sedang bersuara didalam ponselnya. Ayah Nilam.
"apanih maksud kamu de? Kangen ayah ya? Hahaha ingetlah. Kangen juga ayah sama sambal kacangnya. Enak!" jawab ayah Nilam dengan nada bercanda.
"gini yah, ayah mau nggak modalin dia untuk dia buat kayak rumah makan gitu. Buat aku nongkrong sama temen-temen. Abis aku kalau nongkrong ditikar ini terus bisa gatelan yah!" jelas Nilam agak sedikit akting.
"wah wah. Yakin kamu? Itu butuh beaya lho de! Emang kamu kenal sama yang jual?" jawab ayah Nilam yang sedang berada dijauh sana.
"kenal yah. Dia masih muda. Pekerja keras. Baik. Sopan. Ayah nggak akan nyesel bisa kerjasama sama dia. Pasti dia juga antusias meladeni ajakan ayah" rayu Nilam. Lagi.
"kamu urus ajadeh. Nanti dirinci. Ayah kirim uangnya. Tapi jangan sampai kamu ditipu ya. Bahaya uang banyak Nilam!" ayah Nilam baik karena ayah Nilam dulu juga seorang yang tidak mampu. Semua dari nol. Hingga seperti sekarang karena kerja keras. Tuhan pasti memberi jalan. Telfon sudah dimatikan. Sekarang giliran Nilam menyusun kata kata untuk membujuk Rudi agar antusias dengan ajakan Nilam dan Ayahnya.

Tanpa basa basi setelah menaruh handphonenya ditas Nilam langsung memanggil Rudi, "mas Rudi, sini deh!".
Seketika Rudi terperanjak bak ada bidadari yang menyebut namanya.
"iya mbak? Mau pesan lagi?" tidak salah sama sekali pertanyaan Rudi itu. Tapi apakah tidak ada firasat seperti akan kejatuhan duit bejibun? Bintang yang sepertinya tau apa yang akan terjadi hanya diam tanpa berpindah dititik semula dia berada. Nilam telah menjelaskan seperti apa yang Ayahnya perintahkan ditelefon tadi kepada Rudi panjang lebar. Mulai dari beaya tanah, beaya pembangunan, dan pencarian tenaga kerja sudah diatur Nilam dan para suruhan Ayahnya. Bak seorang Raja, Rudi tinggal menunggu jadi. Tapi bukan Rudi namanya jika hanya berdiam diri. Rudi membantu para tukang yang mengerjakan Rumah Makan yang akan diurusnya nanti. Nilam dan kawan kawan sudah menutup rapat rapat tentang ada kejadian apa dibalik niat baik Nilam ini karena Nilam dan teman-temannya tidak mau Rudi akan sakit hati entah sekarang atau nanti bahwa Rudi hanya menjadi korban dari sebuah permainan tolol yang tidak ada landasan hukumnya tersebut.

2 bulan lebih telah berlalu setelah kejadian di Ngarsopuro tempo hari. Kini Rudi hanya tinggal memasak, meracik bumbu kacang rahasianya didapur. Ada chef lain yang membantunya pula tapi dengan tidak mengurangi rasa hormatnya Rudi menolak mentah mentah jika chef tersebut berniatan untuk membantunya membuat sambal kacang. Serahasiakah sambal pelengkap siomay itu? Rudi sebenarnya sedikit marah ketika bulatan bulatan siomaynya ditambahi sedikit bumbu dan racikan ala patner kerjanya tersebut. Tapi apa boleh buat, setelah siomay yang diaransemen oleh Chef kenalan Lena itu, Nilam sangat suka begitupun Ayahnya. Ayah Nilam menyempatkan pulang untuk melihat apakah uang yang dikirimnya tempo hari beratus ratus juta itu digunakan dengan baik atau tidak oleh anak semata wayangnya, Nilam. Setelah sampai Solo memang Nilam telah membuat Ayahnya bangga. Anak bandel dan boros itu sudah menjadi malaikat untuk seorang pedagang siomay lapak seperti Rudi. Bagaimana tidak? Keadaan ekonomi Rudi sekarang sudah jauh membaik. Harga yang ditawarkan pastinya jauh lebih mahal daripada yang dulu Rudi jajakan. Semua yang datang di Rumah Makan yang dinamai "kedai ciomay" itu kebanyakan dari kalangan menengah keatas. Sungguh berkelas.
Dari tahun ke tahun Rumah makan ini terus ramai. Nilam dan teman temannya yang sudah mulai kuliah, tak jarang mereka selalu mengajak teman temannya untuk hangout di Rumah Makan yang tercipta karena permainan Truth Or Dare ini! Ohiya. Sesekali mereka masih sering bermain permainan menantang maut itu. Tapi setelah kejadian Rumah makan ini mereka kebanyakan lebih memilih untuk jujur daripada menerima tantangan.
"ogah ah takut ayah ku bangkrut" celetuk Arindu ketika Nilam memaksanya untuk memilih Dare.

Tentang keluarga Rudi. Bapak Rudi sudah sehat karena sudah dirawat sampai sembuh dirumah sakit ternama di Solo. Untuk menjaga kesehatannya Bapak Rudi ingin berkegiatan dan memilih untuk ikut berpartisipasi mengurus Kedai Ciomay. Menunggu di meja kasir. Ini bukan pekerjaan ringan. Karena Ibu dari segala Ibu sebuah rumah makan adalah Kasir!
Sedangkan Ibu Rudi kadang kala ikut membantu dikasir. Tapi tidak setiap hari hanya ketika Ibu Rudi sedang merasa lelah berdiam diri dirumah.

Pekerjaan ini membuat hubungan silaturahmi keluarga Rudi dan keluarga Nilam begitu baik. Sudah seperti keluarga sendiri. Bapak dan Ibu Rudi sudah seperti orangtua pengganti bagi Nilam. Ayahnya yang memang  jarang pulang kini tidak begitu khawatir dengan keberadaan Nilam yang hanya sendirian di Solo karena sudah ada Rudi dan keluarganya yang senantiasa selalu menemani Nilam. Nilam telah berubah. Semenjak Nilam tau bagaimana susahnya mencari rupiah kini Nilam lebih bisa menghargai uang. Hanya membeli yang dibutuhkan. Dan menabung untuk keperluan masa depannya. Nilam yang berusia semakin matang membuatnya merasa mempunyai kewajiban untuk berfikir kedepan dan lebih dewasa. Setelah lulus kuliah Nilam berencana membuka beberapa cabang Rumah Makannya di luar kota. Karena terbilang cukup laris, Nilam memberanikan diri untuk melakukannya. Dan ternyata benar, antusias warga menyambut Kedai Ciomay sangat menguntungkan Nilam.

Lena dan Arindu. Mereka telah menikah. Setelah lulus kuliah Lena dilamar oleh seorang dokter muda yang tampan. Pikir Lena karena sudah mempunyai suami dokter Lena tidak perlu mencari pekerjaan. Tidak munafik! 70% dari 100% wanita Indonesia memang lebih memilih leha leha dirumah dan menikmati jeripayah suami. Ini memalukan. Memang istri adalah tanggungjawab suami, tapi tidak disalahkan juga jika istri juga mau bekerja dan tidak hanya bersantai ria. Tapi tidak jarang Lena mengikuti lomba lomba fotografi yang hadiahnya bisa sampai puluhan juta. Tapi yang namanya lomba itu bukan pekerjaan kan? Hanya untuk mengisi waktu luang. Jika untung ya menang, jika kalah ya tidah terlalu menjadi masalah. Tapi sepertinya Lena memang dilahirkan untuk selalu beruntung. Kemahirannya dalam memoteret selalu membawanya menjadi pemengang. Walau tidak selalu menjadi pemenang pertama. Tapi ini cukup adil untuk suami Lena, karena Lena masih bisa menutup kebutuhannya pribadi dengan uangnya sendiri.

Arindu. Tidak jauh beda dengan Nilam. Arindu sepertinya berbakat dalam bidang kewiraswastaan. Arindu mempunyai butik kecil-kecilan. Pakaian yang dijual adalah hasil rancangannya sendiri. Suaminya yang hanya seorang pegawai negeri sipil membuat uang bulanan Arindu hanya sedikit. Itu yang memotivasinya untuk mencari uang lebih. Ini lebih baik daripada hanya menggantungkan hidup kepada suami. Kebanyakan pelanggannya hanya memang dari teman kuliah atau teman SMAnya. Ini yang membuat Arindu terkadang menjadi pusing. Bagaimana tidak? Setiap pembeli yang mengaku teman seangkatannya sewaktu kuliah atau SMA memborong dagangannya mereka selalu meminta diskon! Ini membuat keuntungan Arindu sedikit meleset dari keuntungan yang sudah dirinci sebelumnya. Tapi ini juga bukan masalah besar untuk Arindu. Tidak apa dijual sedikit lebih miring asalkan mereka mau menjadi pelanggan setia.

            Ini hidup. Tidak selalu lurus. Terkadang harus terjatuh dulu sebelum memahami sebabnya. Bahagia dulu sebelum tau musibah apa yang terjadi setelahnya. Ini mengerikan. Teka-teki kehidupan yang hanya Tuhan yang tau, tidak lebih dan tidak kurang.

Arindu dan Lena sepertinya sudah hidup bahagia. Ini sudah ending untuk Arindu dan Lena. Mari kita lanjutkan ending untuk Nilam. Apa juga akan berakhir bahagia?

7 tahun lamanya Kedai Ciomay Pusat berdiri. Sampai saat ini masih berdiri kokoh dengan bangunan asli hanya saja sudah sedikit diperindah. Yap! Keindahan Kedai Ciomay ini sangat begitu terasa hari ini, hari dimana banyak bunga mawar putih terangkai rapi menawan disertai bau harumnya yang semerbak. Bukan acara upacara kematian sepertinya. Kedai Ciomay memang bisa disewakan untuk acara pesta . Pesta Ulangtahun contohnya. Pastinya dengan kocek tidak sedikit. Rumah makan mahal coy!! Karpet merah tergelar dengan bijaksana didepan pintu masuk Kedai Ciomay. Dekorasinya tidak sembarangan. Ini mewah. Dekor full warna putih. Mawar putih, balon balon putih, semua meja hidangan berlapiskan kain putih megah, para pelayan pun juga sudah bersiap dengan seragam putih putihnya. Acara ulangtahun siapa ini? Emmmm. Sepertinya bukan acara pesta ulangtahun. Tidak ada tulisan Happy Birthday. Tapi..... Happy Wedding!!

Sebuah kue tart besar berhiaskan 2 angsa putih bak sedang dicumbu asmara sedang menjadi pusat perhatian. Karena kue tart itu akan dipotong! Siapa yang tega memotong kue tart semewah itu? Mempelai wanita dan juga suaminya sudah memotong kue tart itu secara simbolis dengan sempurna. Ini romantis. Akad nikah sudah dilaksanakan tadi pagi. Baru pertama kali Kedai Ciomay disewa untuk resepsi pernikahan. Kaya nggak ada gedung atau tempat lain aja. Tapi memang sih, si pendekor sangat pintar. Kedai Ciomay tidak lagi seperti rumah makan. Sudah seperti Istana Mewah. Para tamu undangan yang hadir terlihat sangat rapi. Tidak terlihat satupun tamu undangan yang memakai baju sembarangan. Betapa terhormatnya siempunya acara ini.

Lena dan Arindu berjalan menuju mimbar yang menjadi pusat perhatian seluruh tamu yang datang. Yap! Mimbar dimana kedua mempelai sedang duduk dengan rona wajah yang memerah karena cinta yang sedang menghiasi mereka.
Nilam? Nilam dimana kok cuma berdua?
"Selamat sayang, kamu memang pantas mendapatkan dia! Laki laki ini memang bisa membimbingmu menjadi jauh lebih baik!" peluk Lena kepada mempelai wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang sedang kalian tebak tebak. Nilam. Nilam hampir menitihkan airmata ketika menyambut kedua sahabatnya yang sedang bertamu diacara pernikahannya.
"selamat ya Rud. Jagain Nilam semampumu! Bahkan lebih dari yang kamu mampu" Sahut Lena yang kini sudah berdiri dihadapan mempelai pria. Rudi. Rudi sudah mantap untuk melabuhkan hatinya di seorang gadis yang sudah menjadi malaikat dihidupnya. Wajah Rudi yang hitam manis membuatnya percaya diri bahkan yakin jika Nilam akan menerima lamarannya. Tidak pernah ada kata cinta sebelum ini, hanya sebuah pertanyaan sakral yang membuat Nilam menitihkan airmatanya karena terharu mendengarnya.

"aku tau aku hanya pedagang siomay keliling yang sebelumnya gapernah kamu kenal. Tapi aku tau Tuhan gapernah sia sia menciptakan aku sebagai tukang siomay. Seandainya Tuhan menciptakan aku sebagai pengusaha kaya mungkin aku tidak sedang berbicara denganmu saat ini, bahkan belum tentu aku bisa mengenalmu dan kamu menolongku hingga seperti sekarang ini. Bukan kebetulan, karena memang sudah direncanakan. Menurutmu apakah boleh aku menikahi malaikat ku? Menjaga, mengisi, berbagi, hingga berusaha, dan saling mencintai. Itu bukan tugas mudah sebelum ada cinta diantara kita, tapi aku yakin semua akan mudah jika kamu mau memulainya dan memperbolehkan aku mengenakan cincin ini dijari manis kamu, Nilam. Bolehkah?" Rudi yang terlihat tampan dan bersih malam itu sudah bertekad bulat untuk menyatakan perasaannya. Mereka tidak pacaran, tidak pernah ada kata cinta. Rudi mengeluarkan cincin itu dari tempatnya dan telah siap mengenakan cincin itu dijari manis Nilam, tapi Rudi belum meluncurkan aksinya sebelum siempunya jari mengiznkannya. "boleh Rudi, silahkan!" tangan kanan Nilam mengulur kearah tangan Rudi, sedangkan tangan kirinya mendarat dipipi yang sedang berwarna merah untuk menghapus airmata yang berlinang. Bak tidak ingin diketahui Rudi, Nilam bergegeas melakukannya dan memberi senyuman termanis dihadapan calon suaminya. Setelah malam itu, rencana demi rencana sudah tersusun. Satu bulan berlalu setelah permulaan lamaran yang tidak disengaja itu terjadi Rudi dan Nilam kini telah berdiri dimimbar yang membuat mereka bak Raja dan Ratu yang sedang dimanjakan oleh rakyatnya.

Cinta bukan tentang arti, tapi tentang dimana pemilik cinta itu dapat merasakan tanpa kalimat, melihat tanpa diraba, bahkan terdengar diantara kebisuan.

Ini cerita khayal. Maafkan aku kalau khayalan ini membuat kalian yang membaca sedikit tersinggung, marah, jijik, atau sebagainya. Hanya hiburan! Terimakasih atas waktunya.


1 komentar: