Sabtu, 01 Maret 2014

Hanya Menulis



From God for Alice

                Alice tak pernah membayangkan semua ini akan terjadi secepat ini. Harapan yang seharusnya hanya menjadi angan-angan tak sepatutnya dapat berada digenggamannya seperti ini. Jika ini hanya sebuah keberuntungan, Alice hanya berharap keberuntungan ini adalah yang akan menuntunnya menuju kesuksesan-kesuksesan lain yang dapat Alice raih tanpa ada embel-embel ‘keberuntungan’ lagi dibelakangnya.
                Bunda Alice selalu bercerita tentang tingkah Alice dimasa kecil. Alice yang hobby
memanjat pohon, Alice yang suka bermain badminton didepan rumah, Alice yang merengek meminta pesta ulangtahun ketika usianya menginjak 10 tahun. Menurut Alice itulah sifat aslinya yang hanya Bunda dan Ayahnya yang mengetahui itu. Tak pernah Alice membantah sedikitpun perintah dari kedua orangtuanya. Karena Alice selalu meyakini bahwa restu orangtua adalah restu Tuhan.
                Gadis yang sebenarnya mempunyai kebiasaan tolol, suka berimajinasi berkeliling dunia melalui pikirannya, membayangkan pernah terbang keluar angkasa, sampai menjadi seorang kekasih dari idolanya. Hal yang terlalu bodoh untuk seorang manusia berpendidikan tinggi seperti Alice.
                Alice yang kini telah bersandar disebuah kursi panjang yang menopangnya, menunggu namanya disebutkan lalu Alice berdiri dan menghampiri sumber suara yang telah memanggil namanya.
“please welcome Alice Anon” dengan sedikit membenahkan blazer putihnya Alice melangkah penuh percaya diri menghampiri sumber suara yang telah menyebut namanya dari beberapa detik yng lalu. Semua lensa kamera yang kini tengah menatapnya bak seorang artis terkenal Alice hanya berpose seadanya. Bedah buku yang diadakan sebuah penerbit ternama di Indonesia dan diikuti hampir semua penulis-penulis ternama ini telah dimulai, tepat ketika nama Alice Anon dikumandangkan.
                Novel anyar karya penulis anyar Alice Anon “Ketika Angkasa Menjadi Sumber Mimpi” adalah salah satu novel yang direkomendasikan penulis-penulis hebat untuk dibaca dan dikagumi segala isi yang ada didalamnya. Novel yang mengutarakan sebuah mimpi yang tak mungkin bisa terjadi tapi hanya dengan sebuah keyakinan dan khayalan-khayalan dapat tercapai bahkan terkuak menjadi sebuah pandangan hidup bagi orang-orang yang merasa dirinya bodoh dan tidak mempunyai mimpi. Novel yang tak mengenal prinsip nalar sebuah tulisan dapat membuat seluk beluk pembaca merasakan bahwa pembaca tersebut yang tengah menjadi tema tulisan Alice.
                “anak saya pernah mengatakan, bahwa dia ingin mendapatkan uang dari pemikirannya. Saya ingat ketika itu tapi pada akhirnya dia tidak pernah bisa membuktikan omongannya sendiri. Tapi apa daya, ternyata saya salah. Kini dia telah berada disini untuk membuktikan kepada saya bahwa dia bisa mendapatkan uang dari pemikiran-pemikirannya yang selalu dia banggakan terhadap saya. Pemikiran  yang pertama ketika itu adalah melihat novel karya-nya dapat berjejer di toko buku ternama, yang kedua menjadi kekasih hati dari idolanya, yang ketiga mendapatkan uang tanpa kerja keras hanya bermodalkan sesuatu yang dia punya tanpa mencari apa yang dia tidak punya.” Tutur seorang lelaki setengah baya, Ayah Alice.
                “semua itu tak jauh karna do’a ayah dan bunda. Sebenarnya saya ingin menjawab seperti itu, tapi sepertinya itu bukan jawaban yang lebih tepat dari, “semua itu tak jauh dari keinginanku atas izin Tuhan melalui ayah dan bunda”.” Jawab Alice sembari menggenggam erat novel yang menjadi karya-nya tersebut.
                “ending dari novel ini sebenarnya cita-cita yang tak pernah saya inginkan untuk menjadi nyata. Mungkin keberuntungan itu tadi yang dapat membuat idola saya dapat mencintai saya. Saya lebih menyukai hidup penuh dengan keberuntungan, dengan kata lain pasti hidup saya penuh dengan kejutan” lanjut Alice memuji kehidupannya sendiri semenjak laki-laki yang dikaguminya telah menambah hidupnya semakin terasa istimewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar